Profil Budaya Desa Blimbing
Bondowoso merupakan daerah yang memiliki keunikan berupa kebiasaan kuno yang tetap ada dalam zaman modern. Kebiasaan tersebut merupakan warisan para leluhur masyarakat Bondowoso yang menjadi penghubung kehidupan masa lampau dan sekarang, yang memiliki pedoman hidup untuk generasi penerusnya. Kebiasaan tersebut misalnya; selamatan untuk desa, selamatan kematian, selamatan kelahiran, dan lain sebagainya. Kebiasaan - kebiasaan tersebut menjadi warna bagi masyarakat Bondowoso. Bondowos memiliki struktur masyarakatnya beragam antaralain suku Madura, Jawa, Arab, dan China. Keberagaman menjadikan Kabupaten Bondowoso memiliki ragam budaya dan adat istidat. Keragaman merupakan pikiran, karya dan hasil karya misalnya ritual bersih desa tetap rutin dilakukan di desa - desa Bondowoso masih memegang adat leluhurnya.
Bersih desa masih sangat lekat di masing -masing desa Bondowoso , diantaranya ; desa Alas Sumur Kecamatan Pujer, desa Blimbing Kecamatan Klabang, dan desa Remban Kulon Kecamatan Cerme. Tiga desa tersebut masih tetap rutin melakukan selamatan bersih desa, dari desa yang disebutkan semuanya masing - masing memiliki keunikan dalam pelaksanaanya. Desa Alas Sumur menampilkan gunungan buah dance, desa Blimbing dengan prosesi selamatan dan sesajen disertai pertunjukan tradisional, dan desa Ramban Kulon arak-arakan makanan dan selametan. Pelaksanaan bersih desa di masing-masing desa tersebut tidak terlepas dari peranan tokoh, desa Blimbing tidak lepas dari seorang tokoh yang bernama Juk Seng. Juk Seng merupakan tokoh yang membabat hutan yang menjadi cikal bakal desa Blimbing. Juk Seng berasal dari keluarga bangsawan dari Blambangan Banyuwangi yang suka mengembara. Dalam pengembaraannya ke arah barat, secara tidak sengaja memasuki hutan buah belimbing. Kedatangan Juk Seng ke hutan belantara menarik perhatian seorang tokoh wilayah hutan tersebut yakni jasiman. Sudah merupakan kebiasaan dalam masyarakat tradisional, seorang yang dipandang tokoh mesti diuji dengan berbagai tantangan dan adu kesaktian.
Adu kesaktian Juk Seng dengan Jasiman dimenangkan oleh Juk Seng dan menjadikan Juk Seng sebagai kepala desa Blimbing. Keadaan desa kurang subur membuat Juk Seng bertapa untuk mendapatkan wangsit agar desa Blimbing menjadi subur, dalam pertapaan Juk Seng diperintahkan untuk mengadakan pertarungan hingga menumpahkan darah kebumi agar hujan sehingga tanah yang kering menjadi subur tahap tersebut merupakan tahap mistis, dimana sikap manusia merasa dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib sekitarnya, yaitu kekuatan dewa-dewa alam raya atau kesuburan. Yang kemudian memberikan pandangan bahwa dengan Keadaan itu manusia hanya perlu menanggapi gejala-gejala yang terjadi disekitarnya dengan perilaku mereka yaitu dengan perjuangan menumpahkan darah. Pertarungan tersebut dikenal dengan nama ojhung didesa Blimbing, ojhung merupakan cikal bakal bagian dalam bersih desa di desa tersebut.
Sepeninggalan Juk Seng ritual bersih desa Blimbing dilakukan secara kontinyu dari tahun-ketahun pada tanggal 14 dan 15 bulan Syakban atau 15 hari sebelum menjelang puasa Ramadhan, adapun urutan dari awal sampai akhir selama dua hari. Hari pertama merupakan pra persiapan pada tanggal 13 dengan pemotongan sapi dan pengumpulan bahan-bahan untuk dimasak, bahan tersebut disebut sasoklan, hari kedua tanggal 14 merupakan awal bersih desa meliputi; memasak semua bahan dan dilanjutkan selamatan sanggar, selamatan asta Juk Seng (makam), selamatan tanian (halaman rumah) dirumah kepala desa dan dilanjutkan ke rumah warga, dan pengajian, dan hari terakhir tanggal 15 merupakan puncak dari bersih desa yang diawali dengan selamatan naggar olbek, selamatan tanian, dan permain rakyat (selamatan atau upacara merupakan perilaku masyarakat yang menunjukkan akan masa lalunya. Bersih desa yang dilakukan tiap tahunnya tidak hanya selamatan dan lain-lain, tapi ada perlengkapan ritual yang cukup meriah didalamnya.misalnya beragam makanan seperti; rasol (nasi dalam piring yang diatasnya diletakan telur rebus), nasi kuning, nasi tumpeng, nasi lemma' (dimasak dengan santan), nasi bakol (nasi bungkus), nasi kuning, ghandik (kue dari ketan dengan lima warna: putih, hitam, merah, kuning dan hijau) dan lain sebagainya. Dari berbagai makanan yang dipaparkan dalam tradisi tersebut tampak jelas bahwa makanan-makan tersebut bersifat khusus simbolis dan ritual maupun terapeutis dalam rangka pencegahan serta pengobatan terhadap berbagai macam penyakit dalam kehidupan masyarakat Jawa. Salah satunya contoh makanan yang dapat mengobati yaitu pengolahan beras dengan kunyit maka diapatlah beras dengan warna kuning, maka disebutlah nasi kuning yang dapat dipercaya sebagai penangkal dan pengahalang ancaman yang bersifat gaib Makanan tersebut menurut Danandjaja (1984:22) merupakan folklor bukan lisan dalam bentuk material. Mengapa demikian karena ada bentuk nyata dan wujudnya yang dapat diliat dan dirasa.
Selain selamatan dan sesajen yang dianggap sakral, dalam perkembangannya bersih desa di desa Blimbing mengalami pengembangan. Lebih tepatnya di sesuaikan dengan jam jiwanya, hal tersebut dianggap lumrah salah satunya terdapat pengembangan dari bahan, bentuk, ataupun warna dari sesajennya. Tujuannya dengan alasan efisien, misalnya pembungkus takir awalnya dari daun pisang diganti bahan plastik. Hal lainpun juga terjadi misalnya di hari ketiga atau terakhir tanggal 15 bersih desa mengadakan hiburan ala modern saat malam hari. Pada tahap ini disebut tahap ontologis manusia sudah merasa tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mistis (Peursen, 1976:18), sehingga menimbulkan dalam diri manusia pertanyaan "apakah perlu", "penting", "apa iya", dan lain sebagainya yang bertujuan mencampurkan adukkan dengan elemen modern. Tahap ini arti logika mulai cukup besar dalam menggerakkan manusia.
Perubahan tersebut dianggap wajar dan seluruh masyarakat di Desa Blimbing menerimanya dengan senang hati. Perubahan atau penambahan unsur modern dalam bersih desa Blimbing dianggap wajar dan tidak dianggap membuang kebiasaan leluhurnya, Berjalannya waktu pikiran logis tersebut memberikan pemahaman lebih mendalam sejati manusia itu memang ada hubungan dengan kekuatan luar dan dari keduanya saling terjadi kontak atau hubungan yang saling mendekat, tahap ini disebut tahap fungsionil Manusia dalam tahap ini tidak merasa hanya memiliki manfaat magis saja dari ritual bersih desa didesa Blimbing, melainkan dalam kejadian tersebut mangajarkan semangat gotong royong, gotong royong pengerahan tenaga tanpa bayaran untuk proyek yang bermanfaat untuk umum atau yang berguna untuk pemerintah.
Bersih desa didesa Blimbing dapat di golongkan folklor, karena masyarakat disana percaya ada manfaat magis yang didapat baik secara langsung maupun tidak langsung, keadaan tersebut digolongkan dalam folklor sebagaian lisan, folklor tersebut merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan dalam wujud nyatanya adalah kepercayaan rakyat dengan bentuk selamatan. Hubungan erat hubungan ritual bersih desa dan masyarakat di desa Blimbing sangat unik dan menjadi Kebudayaan desa Blimbing. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar.