KESENIAN TRADISI RITUAL TARUNG OJUNGAN

Kesenian merupakan salah satu potensi yang dimiliki oleh Bondowoso khususnya kesenian tradisi tarung Ojungan atau yang biasa disebut juga sebagai kesenian tradisi tarung Ojung dimana tradisi ini merupakan salah satu tradisi ekstrim dari Bondowoso yang keseniannya dipadukan antara ketangkasan, seni, religi, dan beladiri dimana para pemain akan saling cambuk menggunakan rotan tanpa perlindungan apapun yang ada pada tubuh mereka. Tradisi ini akan dilakukan saat musim kemarau panjang yang melanda Bondowoso, ritual ini dilakukan dibeberapa daerah Bondowoso yang tepatnya didesa Leprak, Blimbing, Kecamatan Prajekan, Kecamatan Tapen dan Kecamatan Cermee serta di Desa Tapen Kecamatan Bondowoso biasanya masyarakat berkumpul untuk menyaksikan tradisi ritual Ojung tersebut, tujuan dilakukannya ritual tradisi ini sebagai permohonan turunnya hujan kepada Tuhan. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Bondowoso, tetapi juga dilakukan di Pulau Madura dan di Tengger, Gunung Bromo. Dari hal tersebut yang membedakan antar wilayahnya yaitu waktu pelaksanaanya, dimana jika ritual tersebut dilakukan di Bondowoso dan Madura untuk mengundang hujan sedangkan di Tengger Ojung dilakukan setiap perayaan hari raya karo.

Telah dijelaskan diatas bahwa dalam ritual ini menggunakan sebuah rotan untuk dicambukkan ke lawan, dimana dalam tradisi ini terdapat dua orang pria yang saling berhadapan dengan bertelanjang tanpa memakai baju sambil menggenggam erat sebatang rotan untuk senjata, yang diiringi dengan sebuah musik yang dimainkan oleh dua pria tersebut akan bergoyang mengikuti irama musik yang dimainkan dan saat itu juga rotan dipegang akan dimulai untuk menyabet lawan dan dari luka yang meneteskan darah tersebut akan dapat menurunkan hujan, dan masyarakat Bondowoso khususnya Desa Blimbing percaya bahwa semakin banyak darah yang dikeluarkan akan semakin cepat hujan akan turun meskipun terdapat larangan tentang menyabetkan rotan pada bagian wajah atau kepala jadi daerah sabetan rotan hanya diperbolehkan pada bagian leher, dada, perut, lengan atas dan punggung. Kostum atau pakaian yang digunakan dari petarungan ojungan yaitu hanya menggunakan kopiah dan odheng (ikat kepala) yang diikatkan dipinggang.

Tarung ojungan itu sendiri terdapat tiga jenis ronde yang mana tiap ronde para petarung harus berusaha untuk mendaratkan sebanyak-banyaknya pukulan pada tubuh lawan, dan dari setiap luka yang timbul akan segera diberi tanda oleh dua orang yang bertugas pada pertandingan tersebut. Setelah ronde ketiga selesai maka akan dapat dilihat barang siapa pemain yang paling banyak menyabetkan luka pada lawan maka dialah yang akan menang. Ritual ini juga dianggap sebagai simbol keberanian mental dan kejantanan para pesertannya dan dalam ritual ini tidak terdapat dendam yang akan terjadi diantara pemain Ojung, sebab setiap selesai satu ronde pertandingan kedua pemain harus tetap bergoyang dan bersalaman untuk menunjukkan tidak adanya permusuhan diantara mereka. Oleh sebab itu, ritual tersebut sekarang dikemas dalam bentuk tarian yang biasanya ditampilkan satu paket dengan tarian Singo Ulung dan Topeng Kona.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *