KESENIAN TARI TOPENG KONA DESA BLIMBING, KECAMATAN KLABANG, KABUPATEN BONDOWOSO

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan tingkat kesiniannya sehingga membuat banyak wisatawan tertarik akan budaya serta keseniannya, seperti yang ada dikabupaten Bondowoso tepatnnya di desa Blimbing, dimana desa Blimbing ini memiliki kesenian yang khas yaitu Tari Topeng Kona yang dimainkan oleh masyarakat Bondowoso. Tari Topeng Kona merupakan salah satu jenis tarian putra gagah dan memiliki karakter yang halus. Tari Topeng Kona menceritakan tentang perjuangan seorang ketua pengairan yang sakti sedang membabat hutan untuk menjadikan sebuah desa yang diberi nama Blimbing, yang mana seorang ketua pengairan tersebut bernama Juk Jasiman.

Tari Topeng Kona merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upacara adat selamatan desa khas Desa Blimbing yang disebut Rokat Dhisa yang dilatarbelakangi oleh kehidupan masyarakat yang selalu berharap akan hasil panen yang baik dan melimpah yang dilakukan setiap tahunnya pada tanggal 13, 14 dan 15 Sya’ban. Sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah SWT yang diperingati setiap 14 sya’ban, sekaligus mengenang jasa mbah Singo Wulung dan pak Jasiman. Dari Tari Topeng Kona itu sendiri terdapat beberapa kostum yang digunakan yaitu seperti sebuah tarian khas dimana sang penari menggunakan topeng berwarna putih serta dominasi warna merah pada kostumnya. Kedua warnanya memiliki makna yang berbeda. Topeng warna putih memiliki makna pancaran warna bersih. Mewakili karakteristik yang bersih dan suci. Dalam seni pertunjukan dapat diartikan perlambangan, perbuatan tingkah laku, harapan, penunjukan sifat dan perbuatan baik hubungannya dengan kesucian diri.

Dengan itu maka Tari Topeng Kona memiliki karakteristik yang digolongkan dalam bentuk penyajian. Para pemain topeng tersebut tidak bisa bicara dan tidak bisa dalam mengungkapkan apa pun melalui gerak muka, sehingga hal tersebut akan menggambarkan karakter dari seorang tokoh. Berdasarkan kepercayaan yang tumbuh didalam kehidupan masyarakat, dari waktu ke waktu Tari Topeng Kona yang dulunya hanya ditampilkan dan dipersembahkan untuk upacara adat, namun saat ini dapat ditampilkan dalam berbagai even ataupun acara-acara resmi yang sifatnya sebagai tari hiburan. Tari Topeng Kona juga menggunakan beberapa kostum yaitu berupa Topeng Kona, tropong, kace, gelleng bheuh, gelleng tanang, penjhung/sampur, stagen, sabhu’, rape’ adhek budhih, pedangan kanan kiri, salebher pandhe’, gerungsheng/gongseng. Sedangkan dari sisi gerakan, tarian ini mengedepankan 9 gerak utama yang menceritakan kepahlawanan pendiri Desa Blimbing. Terkait 9 gerakan dalam Tari Topeng Kona yang dimaksud adalah gerak tendhek, gerak nunggel, gerak nyeko kangan-kacer, getak tendhek rangkep, gerak akopa’, gerak tete bhetang, gerak nyorok-nyerek, gerak keprah kacer, serta gerak tendhek gawang. Gerakan tarian ini mengandung konsep estetika kerukunan masyarakat tentang nilai kesatuan, nilai keberagaman, nilai keseimbangan dan nilai keselarasan.

Dimana tarian ini juga memiliki ke khasan dari sang penari yang menggunakan topeng berwarna putih serta dominasi warna merah pada kostumnya. Kedua warnanya memiliki makna yang berbeda. Topeng warna putih memiliki makna pancaran warna bersih. Mewakili karakteristik yang bersih dan suci. Dalam seni pertunjukan dapat diartikan perlambangan, perbuatan tingkah laku, harapan, penunjukan sifat dan perbuatan baik hubungannya dengan kesucian diri. Sedangkan topeng warna merah pada dasarnya menyimbolkan hasrat, intensitas, dan keinginan besar untuk selalu maju. Dalam budaya oriental, merah sangat disukai karena memiliki arti bahagia. Dalam seni pertunjukan warna merah memiliki makna cahaya yang terang berkarakter. Sebagai perlambang keberanian. Identik dengan warna darah merah yang berfilosofi gambaran nafsu duniawi dan semua gerakan ini memiliki arti tersendiri dalam menggambarkan kearifan dan perilaku masyarakat Bondowoso, Jawa timur.

Setiap gerakan tarian Topèng Kona juga mengandung nilai-nilai kearifan yang mengacu baik kepada hubungan manusia dengan manusia (hablum minannas) maupun hubungan manusia dengan Sang Pencipta (hablum minallah), seperti: gerak tèndhâ’ yang berarti ketegasan jati dirigerak nungghâl yang berarti manusia harus mampu menyatu dengan Tuhan dan mementingkan kepentingan Tuhangerak nyéko kangan kacer yang berarti manusia harus mampu melihat kondisi alam sekitar dengan baikgerak tèndhâ’ rangkep berarti manusia harus mampu menutup dan menjaga seluruh anggota tubuh dari nafsu duniawigerak akopa’ yang berarti tolak balagerak tètè bhâtang yang berarti manusia harus mampu berjiwa ksatriagerak kèprah berarti memohon kepada Tuhandan gerak tèndhâ’ gawang yang berarti setiap manusia pasti akan kembali kepada sang pencipta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *